Mencari Linux Terbaik
Hehehe, judul nya terlalu memprovokasi ya… Harusnya mencari linux yang paling cocok untuk saya.
Banyaknya distro Linux ternyata menjadi kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh Linux, jangankan untuk user pemula, untuk orang yang sudah sering bergelut di dunia Linux pun tentu tidak akan mudah untuk memilih mana Linux terbaik untuk penggunaan sehari-hari diantara ratusan distro Linux yang ada sekarang ini.
Pertanyaan distro yang paling baik akan selalu menjadi polemik yang asik untuk diikuti oleh para pencinta Linux. Walaupun hasilnya akan selalu subjektif dan dipertentangkan tetapi disitulah seni nya mencintai Linux yaitu pilihan.
Selama beberapa hari ini, kebetulan sebagai penganggur saya sedang kelebihan waktu untuk beraktifitas
akhirnya diputuskan untuk mencoba beberapa distro Linux yang saya miliki dan mencari distro mana yang kira-kira paling cocok untuk saya (please note: untuk saya). Jadi belum tentu apa yang cocok untuk saya juga cocok untuk anda
Saya hanya mencoba distro-distro besar (memiliki banyak pemakai dan dukungan pembuat yang kuat baik itu komunitas atau perusahaan) dan sudah pasti alasan yang paling penting adalah Free dan saya memiliki CD / DVD nya :D.
Ok distro yang saya coba sebetulnya banyak tapi yang memenuhi kriteria diatas adalah, Fedora Core (6), Mandriva (Free 2007), OpenSuSE (10.2), Slackware (11) dan Ubuntu (6.10). Bukan saya tidak mau mencoba distro-distro seperti FrugalWare atau Sabayon tetapi sampai saat ini saya masih belum memiliki CD/DVD nya
so kalau ada yang mau ngasih untuk saya coba, saya dengan senang hati akan menerima nya hehehehe…
Berikut ini rangkuman pandangan pribadi saya tentang distro-distro yang saya coba, sekali lagi anda pasti memiliki pandangan yang berbeda dan itu hak anda jadi jangan marah ya
Installasi
Fedora dan Mandriva sebagai distro yang berasal dari satu sumber yang sama yaitu RedHat, memiliki langkah-langkah installasi yang mirip satu sama lain. Langkah-langkah nya bisa dibilang standar tetapi memiliki di akhir installasi dimana Mandriva memiliki opsi untuk mengconfigurasi hasil installasi sebelum reboot untuk pertama kali. Dan ini merupakan point penting yang membuat Mandriva lebih lengkap dari Fedora dalam hal installisasi. Tetapi karena yang saya test adalah versi free dari semua distro, maka Mandriva memiliki kelemahan dimana versi free nya yang hanya satu DVD terasa sangat kurang, apalagi Mandriva free 2007 membundle versi 64bit dan 32bit dalam satu DVD saja yang akhirnya terasa sekali banyak aplikasi yang dipangkas.
Untuk SuSE 10.2 installasi lumayan berbeda dengan langkah lebih pendek tetapi entah kenapa saya selalu menemukan error ketika installasi dan memilih paket aplikasi yang berbeda dengan aplikasi standar. Apakah DVD installer nya yang error atau memang SuSE 10.2 memang seperti itu saya sendiri belum menemukan jawabannya, yang pasti ketika saya install standar tanpa modifikasi apa-apa semuanya berjalan dengan lancar.
Ubuntu yang saya dapat adalah versi Live CD jadi versi inilah yang mendapatkan ranking tertinggi sebagai installasi paling mudah, karena cukup dengan beberapa kali klik saja sudah bisa terinstall dengan baik. Tetapi kemudahan installasi Ubuntu harus dibayar dengan spesifikasi hardware yang lumayan tinggi dari pertama kali load karena berupa Live CD berarti membutuhkan RAM yang besar dan kecepatan baca CD-ROM yang cukup tinggi.
Slackware distro oldschool yang masih mengandalkan installasi berbasis text. Installasi berlangsung sangat cepat dan tidak membutuhkan hardware terlalu tinggi. Tetapi untuk sebagian orang, installasi berbasis text ini masih cukup menyulitkan.
Tampilan
Dari segi tampilan saya sangat terkesan dengan tampilan desktop default dari SuSE 10.2 yang mirip dengan Vista baik itu KDE maupun GNome nya. Mandriva, Fedora dan Ubuntu memiliki tampilan desktop yang minimalis tetapi masih cukup standar. Sementara seperti biasa Slackware memiliki desktop yang standar minim modifikasi jadi saya gak akan terlalu membahas nya disini.
Dari contoh screenshoot diatas terlihat perbedaan yang cukup mencolok dari desktop standar suse yang cukup indah. Tetapi terus terang saja, sebagai pengguna Linux yang selalu berganti-ganti distro, tampilan SuSE 10.2 yang indah ini malah jadi hambatan saya untuk memakainya karena dengan tampilan yang cukup berbeda dengan yang lainnya, saya jadi kesulitan untuk mencari aplikasi yang ada di menu tersebut. Perlu adaptasi yang relative lebih lama dibanding berpindah antara distro Fedora, Mandriva dan Ubuntu.
Kelengkapan Paket Aplikasi
Mandriva free, memberikan paket yang lumayan dipangkas habis-habisan untuk menghemat ruang, dikarenakan pada versi ini Mandriva berusaha memasukan versi 64bit dan 32bit dalam satu DVD. Tetapi untuk penggunaan standar saja, Mandriva sudah lumayan lengkap kecuali beberapa aplikasi yang sebetulnya penting tidak dibawa serta dalam paket ini dan hanya disertakan dalam paket Powerpack Plus saja.
Fedora dan SuSE memisahkan distribusi 32bit dan 64bit dalam dvd yang berbeda, sehingga terasa lebih lengkap apabila dibandingkan dengan Mandriva, tetapi tentu saja kekurangannya adalah anda harus memiliki 2 DVD apabila ingin mengkoleksi kedua versi tersebut.
S ementara Ubuntu yang saya terima versi Live CD (sudah tentu berupa CD dan bukan DVD) seperti halnya paket yang installer hanya menyertakan paket-paket penting saja dalam CD nya. Ubuntu lebih mengutamakan supaya pengguna bisa mendapatkan aplikasi yang paling baru yang bisa didapatkan dari repository-repository Ubuntu yang banyak tersebar (diindonesia pun ada mirror nya).
Slackware seperti biasa selalu memberikan distro yang lengkap dalam setiap distribusi nya. Jadi sekali anda dapat DVD Slackware maka lengkap lah sudah apa yang anda bisa dapat dari slackware. Anda tinggal mencari tambahan aplikasi lain dari sumber yang lain.
Control Center
Untuk mempermudah configurasi dan manajemen lainnya, distro-distro Linux saat ini selalu berusaha untuk membuat sebuah control center yang mengumpulkan seluruh tools management baik itu untuk hardware maupun software. Control Center bisa diibaratkan control panel apabila di windows dan untuk yang satu ini, Control Center SuSE 10.2 merupakan yang terlengkap yang pernah saya coba. Kemudian disusul oleh Mandriva Control Center yang makin hari makin bagus dan mudah untuk dipakai.
Sementara Fedora, Ubuntu dan Slackware sepertinya masih mempergunakan menu-menu seperti biasa untuk management nya (tidak dikumpulkan dalam satu group control center). Tetapi intinya sama yaitu mempermudah pengguna.
Install dan Update Aplikasi
Distro Linux sekarang ini sepertinya sudah mulai ramah update dan install, RPM yang dulu dibanggakan RedHat karena kemudahan installasi nya ternyata memiliki kelemahan yang sangat mengganggu yaitu dependensi. Setiap kali kita menginstall satu aplikasi kita akan diminta untuk menginstall beberapa librari dan dependensi yang kadang bisa membuat proses installasi menjadi sangat menyebalkan.
Untunglah saat ini Fedora Core sebagai penerus RedHat sudah memiliki yum untuk mempermudah installasi, yum mampu mendeteksi dependensi dan secara otomatis menginstall nya. Yum juga memiliki repository yang cukup banyak sehingga mempermudah dalam pemilihan server yang paling dekat dengan kita.
Mandriva tidak mau kalah dengan menciptakan urpmi sebagai installer yang juga mampu mendeteksi dependensi dengan cukup baik. Cuman sepertinya ada satu hal yang membuat urpmi menurut saya tidak sebagus yum yaitu urpmi sering kali menebak aplikasi yang ingin kita install dengan tidak tepat dan kadang main install saja tanpa konfirmasi yang jelas. Misalkan anda ingin menginstall wine (wine is not emulator) maka dengan sengaja atau tidak, urpmi otomatis menginstall gwine padahal itu adalah aplikasi yang berbeda.
SuSE dengan Yast nya memang sangat powerfull, semua ada disana. Cuman sayang di konsol pun yast tetap mengutamakan tampilan berupa menu-menu sehingga kadang malah memperlambat pekerjaan. Tidak seperti urpmi dan yum yang bisa bekerja dalam modus text dengan cepat tanpa banyak menu.
Ubuntu sebagai distro turunan Debian memiliki aplikasi yang sangat powerfull untuk installasi dan update, apalagi kalau bukan apt
repository yang banyak, dan perintah yang sederhana membuat installasi di Ubuntu sangat mudah apalagi apabila anda memiliki koneksi internet berkecepatan tinggi semuanya serba enak.
Slackware mungkin satu-satunya distro Linux yang saya coba yang tidak memiliki aplikasi yang mampu mendeteksi dependensi dengan otomatis seperti yang lainnya, tetapi dari dahulu slackware sudah memiliki installer yang cukup ramah. Tetapi apabila anda mau sedikit mencari diinternet anda bisa menemukan slapt-get yang memiliki fungsi mirip dengan apt-get di debian.
32bit vs 64bit
Dari hasil percobaan yang saya lakukan, versi 64bit memang memberikan kinerja yang lumayan cukup tinggi tetapi sayang nya belum cukup stabil. Sering kali terjadi crash dan hank ketika dipakai sementara apabila menggunakan versi 32bit memang tidak se cepat versi 64bit tetapi cukup stabil.
Kemudahan pemakaian
Linux saat ini sudah sangat mudah untuk dipakai, bahkan oleh pemula sekalipun. Asalkan oreng tersebut mau sedikit berpikir maka dalam waktu beberapa menit saja sudah sanggup bekerja dengan menggunakan Linux. Jadi tidak ada lagi istilah Linux susah. Linux sudah semudah windows.
Dokumentasi dan Support
Mandriva sebagai distro yang komersial dan hanya memberikan paket free yang lumayan terbatas sekali menjadi Linux yang sangat kurang dalam hal Support dari pihak pengembang, sementara Ubuntu menjadi yang terbaik. Ubuntu memiliki dokumentasi terlengkap yang pernah saya temukan disertai support yang sangat kuat dari pengembang ubuntu (bahkan anda bisa minta CD dengan cuma-cuma).
Fedora sebagai distro lanjutan RedHat memiliki support dan dokumentasi lumayan lengkap dan mudah dicari. Komunitas nya sudah sangat banyak dan dokumentasi yang bertebaran juga sudah sangat mudah untuk dipahami.
SuSE walaupun dikembangkan oleh komunitas, untuk mencari dokumentasi nya di internet pun bukan pekerjaan yang mudah, masih sedikit dokumentasi yang bagus dan mudah dipahami untuk distro ini. Tetapi beruntung sekali tools yang menyertai distro ini bekerja dengan sangat baik sehingga pengguna bisa dengan mudah melakukan konfigurasi OpenSuSE ini.
Slackware seperti biasa Linux Old School. Dokumentasi dari banyak distro bisa dipake untuk Slackware jadi lumayan banyak bertebaran di internet.
Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil test ini hmmm… Tidak ada heheheh karena sampai sekarang pun saya masih gonta ganti distro. Sampai suatu saat saya menemukan satu distro yang cocok dihati maka saya akan pakai distro tersebut :).
Semuanya kembali lagi kepada anda. yang terbaik buat saya belum tentu jadi yang terbaik buat anda.
Tetapi diantara semua tentu harus ada yang lebih mudah dan lebih cocok untuk saya. Sementara ini untuk paket distro free saya menemukan bahwa Fedora lebih mudah dan gampang dari mulai installasi sampai pemakaian dibandingkan dengan yang lain. Ini tidak berarti yang lain menjadi susah, Ini hanya diambil berdasarkan pemikiran secara sepintas dan umum saja dimana orang pasti menginginkan distro yang mudah dipakai, tidak perlu ribet dengan harus terkoneksi ke internet atau mencari-cari aplikasi yang diperlukan di DVD yang lain.
Kayaknya segini saja dulu
udah mulai kerasa pegel ngetik terus..
Catatan: semua gambar adalah milik OSDir.com
Info Artikel

This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 2.5 License.



(9 Votes, nilai: 3.89 dari 5)
21 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]