Ujian Kejar-kejaran

Lagi rame sekarang kasus tidak lulus nya hampir 150ribu siswa-siswi SMU ditanah air tercinta ini. Entah karena kebetulan atau mungkin gosip saja tapi katanya dari sekian ribu yang tidak lulus itu sebagian besar adalah siswa-siswi yang sehari-harinya bisa dikatakan berprestasi. Dari mulai yang juara kelas sampai juara internasional dibidang mata pelajaran tertentu sungguh mengenaskan.
Tidak hanya itu ujian yang bersipat multiple choice juga mengakibatkan banyaknya siswa-siswi yang sehari-harinya berada di deratan kursi belakang karena males kelihatan sama guru, begitu juga terbelakang dalam prestasi akademis tiba-tiba mendapatkan nilai yang luar biasa pada hari H nya dikarenakan banyak hal seperti lucky (mata pelajara eksak koq pake luck), mempergunakan baju dengan jumlah kancing yang tepat sehingga ketika harus ngitung kancing lebih akurat, atau bahkan mungkin yang paling sadis adalah berhasil mendapatkan kunci jawaban sebelum ujian ber gulir sementara untuk siswa yang berprestasi, bisa dan menganggap dirinya mampu dan tidak mau menjadi penipu tidak terpikir untuk melakukan hal-hal tersebut. Tapi apalah daya, si jujur terpuruk karena tidak mau menipu sementara yang tidak jujur merayakan keberhasilan nya keliling kota.
Sangat disayangkan memang, prestasi bertahun-tahun harus hancur dalam hitungan jam saja, entah kenapa harus ada yang namanya ujian nasional yang berusaha mensama ratakan kemampuan seluruh siswa-siswi seluruh nusantara ini dengan standar jakarta. Apakah tidak pernah terpikir bahwa kondisi sekolah di Daerah jauh dari memadai apabila dibandingkan dengan fasilitas dan qualitas sekolah di Ibukota Negara. Apakah terpikirkan bahwa bantuan yang pemerintah berikan untuk sekolah-sekolah tersebut lebih banyak tercecer dijalan sebelum sampai ke sekolah di daerah sehingga mengakibatkan perbedaan qualitas yang sedemikian besar antara Ibukota dan Daerah.
Sepertinya benar kata para wakil rakyat yang ada di DPR yang suaranya tidak pernah di dengar oleh eksekutif yang sebagian suara nya terpasung kepentingan politik masing-masing bahwa Ujian Nasional jangan dijadikan syarat kelulusan tapi dijadikan alat standarisasi untuk mengetahui seberapa sama rata nya kualitas pendidikan di negri ini dan kemudian perbaiki distribusi bantuan untuk sekolah-sekolah yang ada diaerah dan jangan sama ratakan jumlah bantuan, perbesar bantuan untuk sekolah dengan tingkat kebutuhan lebih tinggi dan kemampuan untuk menghasilkan uang lebih kecil yang biasanya berada di Daerah terpencil. Jadikan sekolah di daerah terpencil megah dan layak untuk didatangi oleh pelajar karena dengan sekolah yang bagus bisa jadi upah lelah ketika harus jalan kaki beberapa kilometer menuju sekolah.
Bisa dibayangkan berangkat hampir berbarengan dengan matahari bersinar untuk menuju sekolah dengan berjalan kaki, terbayang rasa lelah setelah sampai sekolah, di sekolah yang dihadapi adalah kondisi sekolah yang reot dengan fasilitas yang sama sekali jauh dari menyenangkan. Belajar dengan kondisi kelelahan dan sekolah yang tidak menyenangkan tentu akan berdampak buruk kepada daya tangkap terhadap pelajaran.
Kemudian datanglah sang Ujian Nasional dengan kualitas soal-soal yang disama ratakan untuk seluruh Nusantara, Murid-murid yang kekurangan informasi dan bahan pelajaran harus menyelesaikan soal yang sama dengan murid dari Ibukota yang punya segudang sumber dari mulai perpusatakaan besar sampai internet dan dengan standar nilai yang sama pula. Apakah ini adil? apakah ini bisa dibilang sebagai standar kelulusan? maaf saja tapi sepertinya kalau tidak curang lebih dari 75% siswa akan gagal. Bukan berarti banyak siswa-siswi indonesia yang bodoh tapi tekanan untuk menggantungkan perjuangan selama 3 tahun dalam beberapa jam itu terlalu besar, terlalu muluk bahkan untuk pelajar yang serius belajar sekalipun.
Pemerintah dengan santai mengatakan bahwa siswa yang tidak lulus UN (tidak lulus sekolah tahun itu) boleh mendaptar ke perguruan tinggi atau SMU dengan mengikuti Ujian paket B atau C. Yap betul bisa jadi itu salah satu solusi untuk bisa melanjutkan sekolah, tapi ada beberapa masalah yang sama sekali tidak dipikirkan oleh pemerintah ketika mengambil keputusan yaitu.
- Waktu ujian Paket B atau C yang dilaksanakan jauh setelah waktu penerimaan siswa dan mahasiswa baru. Apa bedanya dengan gak naik kelas kemudian nunggu satu tahun?
- Apakah ketika lulus sekolah atau kuliah nanti perusahaan tempat sang lulusan mencari kerja sudah siap menerima Ijasah paket B atau C? di Indonesia perusahaan masih mementingkan Ijasah daripada kualitas calon pekerja, Lihat saja di lowongan pekerjaan yang dipasang di koran-koran apa ada yang bilang dibuka lowongan untuk posisi ANU dengan syarat minimum lulusan SMU atau Sarjana ANU, lha kalo yang diminta lulusan SMU bukan nya orang yang ikut ujian Paket C itu gak lulus SMU? jadi apakah semua pihak sudah siap menghadapi ini?
Sama sekali luar biasa keputusan yang diambil oleh pemerintah kita ini. Apabila kelulusan sekolah ditentukan oleh satu kali ujian kenapa mesti bersekolah selama 3 tahun lamanya. Saya rasa akan lebih efektif apabila kursus atau bimbingan belajar saja selama 6 bulan kemudian ikut ujian dimana peluang lulus pasti jauh lebih besar daripada yang sekolah selama 3 tahun.
Dengan penentuan kelulusan berdasarkan hasil ujian beberapa jam saja bisa dibayangkan yang menjadi target adalah hasil yang berani belajar beberapa hari saja atau siswa-siswi yang berani ngambil resiko menghalal kan segala cara untuk lulus dan bukan siswa siswi yang giat belajar demi menyerap seluruh ilmu dari kelas satu sampai kelas tiga.
Siswa-siswi yang tidak lulus dihadapkan pada satu Dilema dimana tidak lulus tahun ini dan menerima beban besar sebagai si Tidak lulus yang belum tentu tahun depan juga bisa lulus dan semakin tertinggal atau memaksakan mengambil Ujian Paket C dimana di kemudian hari mungkin saja akan bermasalah dengan peluang mencari kerja walaupun pemerintah sudah sesumbar mengatakan sama tapi seperti biasa perusahaan dan pemerintah selalu tidak sejalan dan kemudian yang menjadi korban kembali lagi adalah siswa-siswi yang sekarang terpuruk karena tidak lulus Ujian nasional.
Turun kan bendera setengah Tiang untuk ketidak adilan dunia pendidikan!!!
Info Artikel

This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 2.5 License.



No comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]